KABUPATEN YALIMOSitus Resmi Pemerintah Kabupaten Yalimo
Logo Yalimo
Wisata

Mencari Buah Merah di Hutan Yalimo

buahmerah

Memburu 'Emas Merah' di Jantung Hutan Yalimo

Setelah memarkir doublecabin andalan di ujung jalan setapak tanah yang tak lagi bisa dilalui kendaraan roda empat, petualangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Pagi ini, aku diajak oleh Mama Yosepha, seorang tetua lokal di Elelim, untuk menembus rapatnya belantara Yalimo. Tujuan kami bukan sekadar penjelajahan biasa, melainkan berburu Kuansu atau Buah Merah (Pandanus conoideus), tanaman endemik Papua yang dipercaya turun-temurun sebagai 'obat dewa' penyembuh berbagai penyakit dan peningkat stamina.

Melangkah di bawah kanopi hutan Yalimo bagaikan memasuki dimensi purba. Cahaya matahari hanya mampu menyelinap lewat celah-celah dedaunan raksasa, menciptakan siluet magis di atas hamparan lumut basah. Udara terasa begitu murni, membawa perpaduan aroma petrikor, kayu lapuk, dan nektar bunga liar. Langkah kaki kami diiringi simfoni alam—cuitan burung-burung endemik bersahutan dengan orkestra serangga tak kasatmata.

Mama Yosepha melangkah lincah tanpa alas kaki khusus, parangnya sesekali mengayun pelan menyingkirkan sulur berduri. Sementara aku, di belakangnya, harus ekstra fokus agar sepatu trekking-ku tak terperosok ke akar pohon yang menjalar licin.

"Ini dia, Kaka!" serunya memecah kesunyian setelah dua jam berjalan menanjak.

Di sela-sela rimbunnya pohon-pohon besar, sebuah tanaman menyerupai pandan raksasa berdiri kokoh. Di sela pelepahnya, bertengger buah berbentuk silinder panjang dengan warna merah marun yang menyala—seolah memancarkan energi kehidupan di tengah nuansa hijau yang pekat. Dengan cekatan dan penuh penghormatan, Mama Yosepha memanen buah itu. Sambil tersenyum, beliau bercerita bagaimana hutan ini adalah 'apotek hidup' pelindung masyarakat Papua sejak zaman leluhur.

Melihat kilau Buah Merah di tangan beliau, dadaku tiba-tiba disesaki rasa haru dan syukur yang luar biasa. Berada di relung terdalam Yalimo menyadarkanku betapa spektakulernya keanekaragaman hayati pedalaman Papua. Setiap jengkal tanah, setiap akar yang merambat, menyimpan potensi kehidupan yang tak ternilai.

Hutan ini bukan sekadar kumpulan pepohonan; ini adalah laboratorium alam dan warisan peradaban yang sangat sakral. Menjaganya tetap lestari dari rakusnya eksploitasi adalah sebuah kewajiban mutlak. Sebab, jika kita membiarkan paru-paru sekaligus apotek raksasa ini rusak, kita tidak hanya menebang pohon, tetapi juga memutus urat nadi kehidupan di muka bumi. Papua terlalu berharga untuk sekadar dijadikan objek serakah; ia harus dilindungi, hari ini dan selamanya.